Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 04 Oktober 2010

Membangun Kebiasaan Mengerjakan PR

SETELAH seharian belajar, pulang pun belajar lagi. Bukan hal yang menyenangkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Tak heran, jika sekarang istilah "PR" dijadikan istilah untuk suatu hal yang menyebalkan dan melelahkan.

Bagaimana dengan anak Anda? Apakah ia dan Anda harus bertengkar dulu sebelum akhirnya ia mengerjakan pekerjaan rumahnya? Francie Alexander, dari Scholastic, situs untuk membantu anak belajar, mengatakan, anak-anak usia sekolah dasar secara garis besar menghabiskan waktu antara 40-60 menit per hari untuk mengerjakan PR. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda dan si anak lakukan untuk membangun kebiasaan mengerjakan PR.

Bangun jadwal
Mengingat anak sekolah harus kembali bersekolah dan belajar pada pukul 06.30, dan ia butuh tidur selama 8-10 jam per hari. Bila waktu bersiap-siapnya sekitar 1 jam, dan perjalanan sekitar setengah jam, kemungkinan ia harus bangun pada pukul 05.00. Maka, jika ditarik ke belakang, seharusnya ia sudah lelap sekitar pukul 19.00-20.00 setiap malam.
Maka, aturlah jadwal dengan si kecil mengenai jam tidur dan jadwal kesehariannya sebelum tidur, termasuk jadwal mengerjakan PR.
Misalnya, pukul 16.00 ketika ia sudah di rumah, ia boleh beristirahat. Lalu 16.30-17.30 ia boleh bermain dengan teman-temannya. Kemudian, sekitar 17.30-18.00, membersihkan diri dan bersiap mengerjakan PR. Pukul 18.00-19.00 mengerjakan PR. Pukul 19.00-19.30 makan malam dan berkumpul. Sisa waktunya bisa ia gunakan bebas, bisa diisi dengan membahas PR dengan Anda jika belum selesai atau hal lainnya. Jadwal ini bisa Anda sesuaikan dengan aktivitas anak dan Anda.

* Bicara dengan gurunya
Coba tanyakan kepada wali kelasnya mengenai jumlah jam yang dibutuhkan dan diharapkan oleh gurunya untuk si anak mengerjakan pekerjaan rumah. Tanyakan ide bagaimana memotivasi agar mau mengerjakan PR.

* Membangun kebiasaan mengerjakan PR
Ketika Anda menemukan aturan yang tepat untuk Anda dan si anak mengenai bagaimana mengerjakan PR, konsisten lakukan hal tersebut.
Ini adalah waktu yang tepat untuk mengajak si anak membangun keseimbangan antara pekerjaan sekolah, bermain, dan aktivitas lain. Sekolah adalah sebuah pekerjaan bagi anak SD, yang sama pentingnya dengan berteman, mengejar ketertarikan, dan menjadi dirinya sendiri. Dengan membangun kebiasaan baik menerapkan jadwal dan berdisiplin, Anda mengajarkan pelajaran hidup yang berharga dan harapannya bisa meningkatkan harmoni di dalam rumah. (momshomeroom/kompas.com)

Lanjut...

TK Maria Assumpta Fokus Perilaku Anak

AKHIR pekan 29 September 2010 merupakan hari istimewa bagi Yayasan Binawirawan. Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini merayakan ultahnya ke-36. Salah satu sekolah yang berada dalam payung yayasan ini adalah TK Maria Assumpta-Kota Baru.

Pagi itu, TK Maria Assumpta tampil beda dari hari-hari sebelumnya. Tawa dan canda mewarnai empat kelas yang berada di sekolah itu. Ada anak yang bernyanyi, duduk menunggu pembagian makanan, ada berdoa untuk santap siang. Ada juga yang tengah menikmati makanan bersama teman sebaya di kursi masing-masing.

Keceriaan anak-anak lebih kental lagi dengan kehadiran anak- anak TK St. Fransiskus Asisi BTN Kolhua yang turut merayakan ulang tahun yayasan dalam sebuah misa syukur. Mereka berbaur menjadi satu, dipandu oleh guru masing- masing.

Suasana akrab bukan hanya di dalam kelas, saat anak-anak menikmati makan siang. Di luar sekolah pun, beberapa orangtua saling bercanda menunggu akhir kegiatan ulang tahun yayasan itu. Suasana perayaan tampak ceria, halaman sekolah yang luas dan hijau. Ada belasan tanaman peneduh. Ada beringin, cemara, evergreen, menambah suasana sejuk meski matahari mulai menebarkan hawa panas.

Kepala TKK Maria Assumpta, Sr. Leonita CIJ, yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/9/2010), menjelaskan, 112 siswa yang belajar saat ini secara bertahap diasuh sesuai dengan standar kompetensi taman kanak-kanak. Jangka panjangnya, lembaga yang dipimpinnya akan menggunakan pola permainan sentra balok.

Sebelum melaksanakan kurikulum baru itu, kata Sr. Leonita, pihaknya masih fokus pada pendidikan perilaku anak.
Secara teoretis, aspek pengembangan dipadukan dalam bidang pengembangan pembentukan perilaku melalui pembiasaan. Bidang ini, ujar Sr. Leonita, meliputi moral, nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian. Sedangkan pengembangan kemampuan dasar meliputi kemampuan berbahasa, kognitif, motorik dan seni.

Konkretnya, kata suster asal Lembata ini, perilaku anak merupakan dasar pijak pendidikan di lembaga yang dipimpinnya. Ada tiga aspek yang ditekankan, yakni sikap, emosional dan sosial.

Sr. Leoni menambahkan, para guru mengajarkan hal-hal yang sederhana dan praktis. Sikap anak perlu dibentuk sejak dini seperti sopan santun. Saat tiba di sekolah, anak memberi salam kepada guru dan suster. Hal yang sama berlaku juga saat pulang sekolah.

Begitu pun pengembangan emosional, kata Sr.Leoni, anak perlu diajarkan bagaimana dengan sabar menunggu giliran. Saat antrean mencuci tangan maupun baris-berbaris masuk ke ruang kelas. Anak diajak untuk lebih sabar menunggu kapan waktunya tiba mencuci tangannya sendiri sebelum makan.

Sedangkan pengembangan sosial, lanjut Sr. Leonita, anak diajak untuk peduli dengan sesama yang kekurangan. Ada anak yang tidak membawa makanan. Anak yang lain diharapkan untuk membagi makanan kepada anak yang tidak membawa makanan.
Ketersediaan fasilitas bermain di halaman sekolah, kata Sr.Leoni, merupakan salah satu cara yang disiapkan lembaganya untuk memenuhi kebutuhan anak.

Cara mengajar kepada anak TKK, kata Sr.Leonita, tentu beda dengan orang dewasa. Anak lebih suka dengan bermain. Bermain adalah salah satu pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kegiatan bermain dilakukan dalam suasana menyenangkan.

Strategi dalam bermain, kata Sr.Leonita, menggunakan bahan yang menarik dan mudah diikuti anak. Anak diajak untuk bereksplorasi sehingga proses bermain menjadi bermakna bagi anak. (rosalina woso)
Lanjut...

Selasa, 07 September 2010

Asisi Dapat Kucuran Rp 75 Juta

STASI Santu Fransiskus Asisi Kolhua-Kupang mendapat kucuran dana program kemitraan bina lingkungan (PKBL) untuk rumah ibadah dari PT Askes (Persero) sebesar Rp 75 juta. Penyerahan dilakukan Direktur Operasional PT Askes (Persero), Umbu M Marisi, kepada Ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS) Fransiskus Asisi, Sentis Medi, di stasi setempat, Senin (6/9/2010).

Sebelumnya, pada 28 November 2009, PT Askes menyerahkan bantuan serupa untuk Stasi Fransiskus Asisi Kolhua Kupang sebesar Rp 50 juta. Dana ini diserahkan langsung oleh Direktur Utama PT Askes, I Gede Subawa. Dengan demikian, total dana bantuan PT Askes untuk Stasi St. Fransiskus Asisi sebesar Rp 125 juta. Dana ini digunakan untuk merampungkan pembangunan Gereja St. Fransiskus Asisi yang telah dimulai enam tahun lalu.

"Mudah-mudahan seremoni penyerahan bantuan ini terulang lagi tahun depan. Uluran tangan pihak ketiga, termasuk PT Askes, sangat kami butuhkan untuk merampungkan pembangunan gereja kami ini," ujar Sentis Medi.

Direktur Operasional PT Askes (Persero), Umbu M Marisi, mengatakan, penyaluran dana PKBL merupakan salah satu bentuk kepedulian PT Askes kepada masyarakat sebagai peserta Askes. Pun sebagai tanggung jawab sosial PT Askes yang diwujudkan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR).

Pada tahun 2008, kata Umbu Marisi, PT Askes mengalokasikan dana PKBL sebesar Rp 19.555.000.000, realisasinya sebesar Rp 10.263.012.541 atau 52,48 persen. Alokasi dana ini, katanya, meningkat sebesar 273,06 persen dari realisasi tahun 2007 sebesar Rp 2.751.024.216.

Dana PKBL, diakui Umbu Marisi, antara lain disalurkan melalui Program PT Askes Peduli, bantuan bencana alam, bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan pengadaan sarana dan prasarana umum, bantuan sarana ibadah dan bantuan pelestarian alam.

Untuk merampungkan pembangunan gedung gereja St. Fransiskus Asisi, panitia masih membutuhkan dana sekitar Rp 1.512.000.000. Dana ini digunakan untuk pembuatan tembok basement dan gereja Rp 205 juta; pembuatan kusen, daun pintu/jendela dan kaca Rp 44 juta; pengerjaan plafond Rp 22 juta; pemasangan keramik lantai Rp 273 juta; pembuatan tangga Rp 50 juta; pengerjaan tembok ornamen depan gereja Rp 198 juta; pengerjaan teras Rp 59 juta; pembangunan menara lonceng Rp 40 juta; pengecatan Rp 102 juta dan lain-lain Rp 321 juta. (eni)

Pos Kupang, 7 September 2010 halaman 17
Lanjut...

Selasa, 31 Agustus 2010

Uskup Agung Kupang Dialog Dengan Pekerja Media

WARTAWAN mengemban tugas pewartaan yang istimewa, karena mewartakan realita kehidupan manusia. Untuk itu wartawan harus banyak membaca supaya berita yang diwartakan bisa memberikan pencerahan dan pendidikan bagi sesama.

Hal ini dikatakan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, ketiga berdialog dengan puluhan pekerja media komunikasi beragama Katolik dari berbagai media massa di Susteran SSpS Belo, Minggu (15/8/2010). Uskup Turang mengatakan, wartawan karena panggilan tugasnya mempunyai banyak relasi, sehingga harus menjadi pembuat jembatan besar supaya semua orang bisa melewati jembatan itu.

Jembatan besar yang dimaksudkan adalah jembatan pendidikan, ekonomi, hukum dan sosial kemasyarakatan. Wartawan mengemban tugas menghantar sesamanya ke jembatan itu, tapi tidak menghakimi.

Uskup Turang mengingatkan, media tempat wartawan bekerja agar jangan hanya mengejar keuntungan saja. Di mana saja, katanya, media selalu untung. Wartawan juga jangan hanya mengejar pendapatan karena nanti akan kesulitan sendiri.

Tugas mulia seorang wartawan antara lain menyajikan berita dan tulisan yang membawa perubahan kehidupan banyak orang. "Orang miskin, misalnya, perlu dibantu dengan berita-berita yang membangkitkan gairahnya untuk berusaha. Orang miskin juga perlu dibantu dengan berita-berita sehingga ada perhatian dari orang lain dalam membantu mereka. Tugas dan tanggung jawab itu ada di wartawan," kata Uskup Turang.

Uskup Turang menggambarkan wartawan ada dua tipe. Tipe pertama yang berorientasi perolehan. Wartawan tipe ini sering berpindah-pindah media atau yang dikenal wartawan kutu loncat. Tipe kedua, wartawan idealis yang betul-betul mengemban tugas pewartaan. Wartawan tipe ini dikenal dengan kutu lak.

Uskup menyarankan agar wartawan membangun tim kerja yang handal sehingga tidak menjadi asing sendiri. Orang yang berjalan sendiri, katanya, lebih mementingkan ego daripada kerja sama dalam sebuah kebersamaan. (gem)

Sumber: Pos Kupang, 16 Agustus 2010 halaman 14
Lanjut...

Keluarga adalah Seminari Awal

KUPANG, PK -- Keluarga Katolik merupakan tempat penting untuk mendidik calon imam. Ini penting untuk integritas kehidupan intelektual dan kepribadian calon imam.

Keluarga-keluarga Katolik sebagai pendidikan awal atau seminari awal hendaknya mendidik anak-anaknya sehingga membantu Gereja dalam proses pembinaan calon imam” kata Ketua Komisi Seminari Konferensi- Wali Gereja Indonesia (KWI), Mgr. Dr Dominikus Saku, Pr pada perayaan ekaristi penutupan pertemuan para rektor Seminari Tinggi se-Indonesia di paroki Katedral Kristus Raja Kupang, Kamis (8/7/2010).

Para rektor seminari se-Indonesia itu melakukan pertemuan di Hotel Sylvia-Kupang, Senin (5/7/2010) hingga Kamis (8/7/2010).

Sebelumnya, Romo Paul Suparno SJ yang menjadi pembicara pada hari kedua, Selasa (6/7/2010), menegaskan tentang pentingnya keseimbangan pembinaan rohani dan intelektual. Menurutnya, pembinaan calon imam Katolik hendaknya memperhatikan keselarasan antara kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.

Rm. Patris Neonnub, Pr dan Fr Amanche Franck Oe Ninu, mengutip keterangan sekretariat panitia pertemuan tersebut, menjelaskan, tema pertemuan para rektor seminari se-Indonesia itu adalah "Pentingnya Pembinaan Holistik Intelektual dan Kehidupan Kepribadian Calon Imam Katolik".

Pertemuan tersebut diawali perayaan ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Pr Senin di Gereja St. Yoseph Naikoten Kupang.
Dalam pertemuan itu, kata Neonnub dan Ninu, para rektor saling membagi pengalaman mengenai pembinaan calon imam di seminari tinggi yang mereka pimpin.

Para rektor seminari tinggi itu juga sempat mengunjungi Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian dan Seminari Menengah Santa Maria Imacullata Lalian-Belu pada Kamis (8/7/2010). (*/alf)

Sumber: Pos Kupang 13 Juli 2010 halaman 5
Lanjut...