Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 14 Oktober 2010

Renungan Harian 13 Oktober 2010

Rabu 13 Oktober 2010

Bacaan:

Gal 5:18-25;
Mzm 1:1-2,3,4,6;
Luk 11:42-46
Renungan:

Berkata-kata selalu lebih mudah daripada melaksanakannya. Itulah yang terjadi dalam diri orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ada banyak aturan/hukum dan larangan pada zaman itu. Mereka mengecam apabila ada yang tidak mematuhi aturan itu sehingga orang hanya mengikuti aturan tanpa penghayatan, tanpa pemaknaan. Bahkan tanpa disadari rakyat hanya menjadi budak dari segala aturan/hukum yang berlaku. Ironisnya para ahli ini justru suka duduk di tempat terdepan dalam rumah ibadat atau senang bila mendapat penghormatan di muka umum.

Para ahli ini lupa akan hukum Allah sendiri yaitu kasih. Tidak heran orang-orang Farisi ini mengabaikan hal yang lebih utama daripada membayar persepuluhan yaitu keadilan dan kasih. Yesus mencoba mengingatkan dengan kata-kataNya yang tajam. Seorang ahli Taurat yang mendengar perkataan Yesus mencoba membela diri. Alih-alih mendapat pujian, Yesus justru mengecam ahli Taurat tersebut karena perbuatan mereka yang suka menaruh beban yang tidak terpikulkan kepada orang lain tetapi mereka sendiri tidak menyentuh beban itu. Kita diajak oleh Yesus untuk lebih mengutamakan hukum Kasih dibandingkan segala aturan yang dibuat oleh manusia.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2010, Yayasan Pustaka Nusatama)

Sumber: MIRIFICA
Lanjut...

Renungan Harian 12 Oktober 2010

Selasa 12 Oktober 2010

Bacaan:

Gal. 4:31b-5:6;
Mzm. 119:41, 43, 44,45, 47,48;
Luk. 11:37-41
Renungan:

Bagi orang Yahudi, membasuh tangan sebelum makan, bukan hanya untuk kesehatan, tetapi untuk membersihkan diri karena bersentuhan dengan hal-hal najis waktu ada di luar rumah. Tetapi yang ditegur oleh Yesus, bukan pada tradisi tersebut, tetapi perhatian orang Farisi pada tradisi ini melebihi sikap sopan santunnya kepada Yesus yang diundang makan di rumahnya.

Pada zaman sekarang orang jauh lebih memperhatikan penampilan luar daripada kemampuan untuk mengasah sikap hati.Karena memang mengamati tradisi lahir jauh lebih mudah daripada mengamati praktek kemurnian hati. Padahal sikap murah hati, sedia berderma dan berbagi dengan sesama, jauh lebih dekat pada sikap hati Tuhan, dibandingkan sikap yang mementingkan penampilan pada tata lahir yang manusiawi. Apalagi bila kepentingan itu disertai dengan penghakiman dan penilaian menurut ukuran yang dibuat oleh manusia. Dan hari ini, kita diajak untuk semakin menyerupai Tuhan, bersehati dengan Dia; bukan sekedar menjadi pelaksana hukum-hukum lahiriah yang diciptakan manusia, (yang katanya) untuk menghormati Dia.

Sangat baik kita selalu membenahi dan mengkoreksi tata cara ibadat kita dalam hidup menggereja, tapi jauh lebih baik bila kita selalu membenahi sikap hati kita, menuju pemurnian dan ketulusan untuk selalu berbuah dan berbuat.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2010, Yayasan Pustaka Nusatama)

Sumber: MIRIFICA
Lanjut...

Minggu, 10 Oktober 2010

Renungan Harian 11 Oktober 2010

Senin 11 Oktober 2010

Bacaan:

Gal. 4:22-24,26-27,31 - 5:1;
Mzm. 113:1-2,3-4,5a,6-7;
Luk. 11:29-32
Renungan:

Ada seekor ikan kecil yang berenang tanpa lelah menyusuri luasnya samudera. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan seekor ikan besar "Hi teman, kamu terlihat sangat letih, kamu hendak pergi ke mana?" "Saya hendak mencari sebuah samudera, karena aku dengar kata banyak teman bahwa samudera itu indah."

Mungkin kita tersenyum membaca cuplikan cerita itu. Tapi itulah yang terjadi pada sebagian besar orang. Mereka sibuk mencari tanda penyertaan Allah, mereka sibuk mencari berkat, mukjizat dan rahmat Allah dalam setiap perjalanan hidup mereka. Padahal tanpa disadari sebenarnya saat itu mereka hidup dalam rahmat, mukjizat dan penyertaan Allah.

Apakah kita termasuk golongan orang yang beruntung yang selalu dapat melihat kehadiran Allah dalam setiap tahap hidup kita, ataukah kita termasuk pada golongan orang yang merasa kosong dan mencari tanda-tanda penyertaan Allah dalam hidup kita?

(Renungan Harian Mutiara Iman 2010, Yayasan Pustaka Nusatama)

Sumber: MIRIFICA
Lanjut...

Jumat, 08 Oktober 2010

Renungan Harian 9 Oktober 2010

Sabtu, 9 Oktober 2010

Bacaan:

Gal. 3:22-29;
Mzm. 105:2-3,4-5,6-7;
Luk. 11:27-28
Meditatio:

Yesus menyampaikan sebuah kriteria tentang orang yang ‘berbahagia'. Kriterianya sangat jelas, mendengarkan dan memelihara Sabda Allah. Dengan kata lain yang menjadi pusat adalah Allah sendiri yang hadir dalam SabdaNya. Ketika seseorang menjadikan Sabda Allah makanan dan terus memeliharanya, maka ia akan sungguh berbahagia. Ia disebut berbahagia karena hidupnya sudah mengikuti gerak Sabda itu. Bahagia menjadi buah persatuan dengan Sabda itu. Untuk bisa mencapai persatuan itu, kita perlu membangun kebiasaan mendengar dan mencerna Sabda itu setiap hari.

Kita diundang untuk ikut serta dalam rombongan orang-orang yang layak disebut bahagia. Bahagia karena mengalami dan menghidupi kesatuan kita dengan SabdaNya. Ada banyak pengalaman yang membuat kita bahagia di tengah kesulitan ketika kita bersatu dengan Yesus. Marilah kita pertahankan persatuan yang membahagiakan itu.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2010, Yayasan Pustaka Nusatama)

Sumber: MIRIFICA
Lanjut...

Renungan Harian 8 Oktober 2010

Bacaan:

Gal. 3:7-14;
Mzm. 111:1-2,3-4,5-6;
Luk. 11:15-26
Renungan:

Seorang bapak dalam setiap pertemuan doa lingkungan atau pendalaman iman selalu bilang, "Pokoknya... seharusnya..." Dengan kata-kata tersebut ia ingin perkataannya tak terbantahkan. Ia seolah yakin bahwa imannya telah kokoh jika sudah bilang seperti itu. Begitulah jika seseorang menanam iman seperti memancang tiang listrik dalam-dalam. Namun ia tidak bisa tumbuh.

Beda dibanding jika iman itu kita tanam seperti menanam biji. Begitu tumbuh, ia akan kita rawat baik-baik. Sebab kelak kita yakin bahwa pohon itu akan besar, rindang dan berbuah. Dia bisa menjadi peneduh. Buahnya bisa dinikmati oleh yang membutuhkan. Santo Paulus pun mengingatkan kita semua akan hidup di dalam iman. Hidup bukan berdasar apa yang kita lakukan, melainkan karena iman kepada Tuhan Yesus.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2010, Yayasan Pustaka Nusatama)

Sumber: MIRIFICA)
Lanjut...