Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label Warta dari Asisi Kolhua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta dari Asisi Kolhua. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2016

Stasi Belo Awali Pentas Seni OMK

Salah satu atraksi pentas seni OMK
KUPANG, PK - Orang Muda Khatolik (OMK) Paroki St Fransiskus Asisi BTN Kolhua menggelar kegiatan Pentas Seni OMK di halaman gedung gereja paroki tersebut, Kamis (21/7/2016). Kegiatan pentas seni OMK diikuti OMK stasi dari semua wilayah paroki.

OMK Stasi St Agustinus Belo menjadi peserta pertama yang mengawali semarak Pentas Seni OMK tersebut. Penampilan tarian kreasi daerah dari OMK Stasi St Agustinus Belo langsung memukau ratusan penonton yang memadati halaman gereja Paroki St Fransiskus Asisi BTN Kolhua. Tepuk tangan meriah pun bersahut-sahutan.

Tarian kreasi daerah yang diiringi musik lagu adat Bajawa-Flores benar-benar tarian pembuka pentas seni OMK yang menarik perhatian. Meski demikian, penampilan peserta dari stasi lainnya tak kalah memukau. Makin malam, penampilan para peserta makin memukau. Jumlah penonton pun terus bertambah.
Lanjut...

Romo Kanis Pen Jadi Pastor Kuasi Stasi Kuaputu

Romo Kanis Pen, Pr (tengah) disambut secara adat Timor
KUPANG, PK - Umat Stasi St. Petrus, Kuaputu, Kabupaten Kupang, benar-benar merasa bahagia. Mulai bulan Mei 2016, Romo Kanis Pen resmi menjadi pastor kuasi paroki di Stasi St. Petrus, Kuaputu. Hal ini berarti, pelayanan pastoral di stasi tersebut tidak diatur oleh pastor paroki St Fransiskus Asisi BTN Kolhua lagi, tetapi sendiri.

Sebagai bentuk kegembiraan, upacara penyambutan Romo Kanis Pen sebagai pastor kuasi paroki di Stasi St Petrus Kuaputu, Selasa (10/5/2016) sore, digelar secara meriah. Kedatangan Romo Kanis Pen disambut secara adat oleh umat setempat. Diawali dengan natoni (sapaan adat suku Timor) sebagai ucapan selamat datang dan dikalungi selendang sebagai tanda penerimaan, ia diarak dengan tari-tarian adat suku Timor.
Lanjut...

Sebanyak 40 Pastor Dimutasi

Uskup Turang memberkati para imam
KUPANG, PK - Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, melantik dan memberkati 40-an pastor di wilayah Keuskupan Agung Kupang (KAK) untuk bertugas di tempat tugas yang baru. Dari jumlah tersebut, 33 di antaranya menjadi pastor paroki. Pelantikan dan pemberkatan para pastor tersebut berlangsung dalam misa di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Kamis (21/4/2016).

Beberapa pastor paroki dan pastor pembantu paroki di seputaran Kota Kupang juga dimutasi. Hanya Pastor Paroki Katedral Kriatus Raja Kupang, RD Ambrosius Bala Ladjar dan Pastor Paroki St. Fransiskus dari Asisi, Kolhua, RD Fr. Simon Tamelab, yang tetap.

Misa pelantikan dan pemberkatan para pastor dihadiri ratusan umat. Misa dipimpin langsung Uskup Turang. Seusai pelantikan dan pemberkatan, Turang berkesempatan foto bersama dengan para pastor. Sementara setelah misa dilanjutkan resepsi yang digelar di aula paroki katedral tersebut.
Lanjut...

Kapolda Sampaikan Empat Pesan bagi Umat Paroki Kolhua

Kapolda bersama Umat Asisi Kolhua Kupang
KUPANG, PK - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) NTT, Brigjen Pol.  E. Widiyo Sunaryo mengingatkan tentang bahaya narkoba saat menyampaikan  pesannya untuk umat Paroki St Fransiskus Asisi Kolhua Kupang, Minggu (10/4/2016) malam.

"Saya imbau untuk  tidak mencoba-coba konsumsi narkoba. Tidak hanya orang muda, tapi juga anak-anak dan orang tua," kata Sunaryo yang menyampaikan pesan dari mimbar Gereja St. Fransiskus Asisi Kolhua seusai perayaan misa yang dipimpin Rm. Longginus Bone, Pr.

Sunaryo yang mengikuti perayaan ekaristi di gereja tersebut bersama istrinya Ny. Theresia Dewi Pratiwi menyampaikan empat pesan untuk umat Kolhua dan masyarakat NTT umumnya. Pertama, terkait penyalahgunaan narkoba. Kapolda mengingatkan bahwa NTT merupakan daerah transit sekaligus target pemasaran narkoba. "Penyalahgunaan narkoba sangat berbahaya bagi kehidupan. Mari kita waspada dan bersama-sama memeranginya," kata Sunaryo.
Lanjut...

Jeriko dan Herman Man Hadir di Stasi Belo

Gereja Paroki St Fransiskus dari Asisi Kolhua Kupang
KUPANG, PK--Misa pelantikan pengurus Dewan Pengurus Stasi (DPS) St. Agustinus Belo berlangsung di kapela stasi tersebut, Minggu (7/2/2016) pagi. Misa dipimpin oleh Pastor Paroki St. Fransiskus Dari Asisi Kolhua, RD. Simon Tamelab.

Wakil Walikota Kupang, Herman Man, hadir pada misa pelantikan pengurus DPS tersebut. Seusai misa, acara dilanjutkan resepsi pelantikan pengurus DPS di kediaman Ketua Stasi St. Agustinus Belo, Ambrosius Konsen Parera. Anggota DPR RI, Jefri Riwu Kore (Jeriko) juga hadir dalam acara resepsi ini.

Pemandangan menjadi menarik bagi umat yang hadir, karena Jeriko dan Herman Man pernah diberitakan media bakal maju sebagai calon Walikota dan Walikota Kupang.

Lanjut...

Uskup: Muspas Jangan Sampai Terjadi Konflik

Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang,Pr
KUPANG, PK - Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, meminta kepada seluruh peserta Musyawarah Pastoral (Muspas) untuk menghormati perbedaan. Perbedaan itu tidak bisa dilenyapkan sampai kapanpun karena itu melawan kepada penciptanya.

"Biarkan perbedaan itu tumbuh sebagai keindahan untuk mempersatukan dalam membangun semangat persaudaraan. Peserta muspas juga harus melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan secara baik dan jangan sampai terjadi konflik karena tugas yang diemban adalah membangun karya persaudaraan dalam semangat gereja yang selibat," ujarnya.
Lanjut...

Orang Muda Tidak Hanya Cerdas Ilmu

Romo Longginus Bone, Pr bersama anak-anak
OMK  tidak hanya cerdas ilmu saja tapi cerdas dalam mengangkat budaya yang beranekaragam di NTT.

ORANG Muda Katolik (OMK) Paroki St. Fransiskus dari Asisi-Kolhua Kupang sukses menggelar pentas seni selama dua hari. Acara itu mendapat sambutan meriah. Pentas seni mengangkat ritus budaya beberapa suku di NTT, seperti Belu, Sumba, Manggarai, Ngada, Ende, Lamaholot  dan Timor (Dawan). Acara puncak berlangsung di pelataran gereja paroki ini, Jumat  (22/7/2016) malam.

Pentas seni budaya mendapat sambutan meriah dari umat paroki. Apalagi disaksikan pastor paroki, RD Simon Tamelab, Pr, Ketua Pelaksana Dewan Pastoral Paroki (DPP), Adrianus Ceme, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Kupang (KAK), Suster Maria Fransiska, RVM, Pastor Moderator OMK, RD Longginus Bone, Pr, para ketua KUB, ketua stasi dan pengurus wilayah.
Lanjut...

OMK Paroki St Fransiskus Asisi Galang Dana dari Pentas Seni

Salah satu adegan dalam pentas seni OMK
KUPANG, PK -Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Fransiskus dari Asisi, Kolhua, menjadikan pentas seni budaya untuk menggalang dana menyongsong puncak acara Indonesia Youth Day 2016 di Manado, Sulawesi Utara. Pentas seni budaya yang mengangkat soal budaya beberapa suku di Nusa Tenggara Timur ini, sekaligus mendukung program destinasi pariwisata yang dicanangkan pemerintah NTT.

Pantauan di Pelataran Gereja Paroki St. Fransiskus dari Asisi, Kolhua, Jumat (22/7/2016) malam, puncak pentas seni budaya yang digelar 21-22 Juli 2016 ini mendapat sambutan yang luar biasa dari umat. Pentas seni yang mengusung thema, "Menenun Waktu di Bumi Flobamora" ini, mengangkat ritus budaya dari beberapa suku di NTT seperti Belu, Sumba, Manggarai, Ngada, Ende, Lamaholot (Lembata) dan Timor (Dawan).
Lanjut...

Romo Dus Puji Kekompakan Umat Paroki Santu Fransiskus dari Asisi Kolhua

Romo Longginus Bone bersama anak-anak
KUPANG, PK -  Pastor Paroki Santu Fransiskus dari Asisi BTN Kolhua-Kupang, RD Longginus Bone, Pr memuji kekompakan umat di wilayah 2 baik pengurus Orang Muda Katolik (OMK), Kelompok Umat Basis (KUB) maupun orangtua yang ada di wilayah itu. Bahkan ia melukiskan pertemuan yang dihadirinya di wilayah 2 sebagai pertemuan yang membahagiakan.

Pujian Romo Longginus yang akrab dipanggil Romo Dus ini disampaikan saat menghadiri acara penutupan bulan Rosario yang diselenggarakan Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah 2 Paroki Santu Fransiskus dari Asisi BTN Kolhua-Kupang, di rumah Yulius Talok dan Yohanis Mau, di Blok V BTN Kolhua-Kupang, Selasa (7/6/2016) malam. Acara penutupan bulan Rosario ini diawali misa syukur dipimpin Romo Dus bersama Diakon Dion Klau.

Lanjut...

Jumat, 16 Januari 2015

Uskup Turang Kukuhkan Paroki Kolhua Kupang

Pelantikan Pengurus DPP FA Kolhua (foto Pos Kupang)
KUPANG, PK--Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang,Pr mengingatkan umat dan pengurus Dewan Pastoran Paroki St. Fransiskus dari Asisi, Kolhua, Kupang agar menjaga relasi dengan menghormati martabat orang lain sebagai saudara sendiri.

Uskup Turang menegaskan itu dalam kotbahnya saat memimpin misa pengukuhan Stasi St. Fransiskus dari Asisi, Kolhua menjadi paroki, pelantikan pengurus DPP yang diketuai, Adrianus Ceme,   pelantikan  RD Simon Tamelab menjadi pastor paroki  dan misa Hari Perdamaian Dunia di Gereja Paroki St. Fransiskus dari Asisi, Kolhua, Kupang, Kamis (1/1/2015). Sebelumnya stasi ini merupakan bagian dari Paroki Sta. Familia Sikumana, Kupang.

Menurut Uskup Turang, realitas menunjukkan masih ada orang yang tidak menghargai orang lain, yang miskin diperjualbelikan. Uskup Turang mengingatkan, pihak-pihak yang bergerak di bidang pelayanan publik seperti  pengurus gereja harus menciptakan lingkungan yang damai.
Lanjut...

Senin, 13 Oktober 2014

Stasi Fransiskus Asisi Kolhua Jadi Paroki

Uskup Turang berkati gereja baru St F Asisi Kolhua, 4 Oktober 2014
Gereja baru St Fransiskus dari Asisi Kolhua (foto Dion DBP)
KUPANG, PK--Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, menegaskan, pemerintah, dalam hal ini gubernur, bupati/walikota, wajib membantu gereja-gereja sebagai bagian dari tugas pelayanan kemasyarakatan. Pasalnya, gereja dalam karya pewartaannya, ikut melaksanakan tugas pemerintah, bahkan mengambil alih, untuk memandirikan masyarakat.

Penegasan Uskup Turang ini disampaikan ketika memberikan sambutan seusai acara pentahbisan dan peresmian Gereja St. Fransiskus dari Asisi Kolhua, Sabtu (4/10/2014) siang. Uskup mencontohkan keterlibatan pemerintah dalam membantu gereja-gereja seperti di Kalimantan Barat.

"Gubernur Kalimantan Barat selalu membantu gereja (pembangunan fisik) untuk pengembangan iman umat," ujar uskup.

Pada kesempatan yang sama, Uskup Turang menetapkan Stasi St. Fransiskus dari Asisi,  Kolhua Kupang, menjadi paroki. Sebelumnya stasi ini masuk dalam wilayah Paroki Sta. Familia Sikumana Kupang.

Pengumuman Uskup Turang ini disambut gembira sekitar 1.000 umat Katolik Stasi Fransiskus dari Asisi,  Kolhua yang mengikuti misa  tersebut. Gereja St. Fransiskus dari Asisi yang berdiri megah di bukit Kolhua Kupang dibangun umat stasi ini secara swadaya  selama 12 tahun sejak 2002 silam.

Misa pentahbisan dan peresmian gereja ini dihadiri Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya; Wali Kota Kupang, Jonas Salean; Wakil Wali Kota, Herman Man; Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI, Eusabius  Binsasi; Kakanwil Kemenag NTT, Sarman Marselinus;  Sekda NTT, Frans Salem; Ketua DPRD NTT Sementara, Alfridus Bria Seran; para donatur; tokoh agama; serta undangan lainnya. Sebagai tanda peresmian, Uskup Turang dan Gubernur Frans Lebu Raya menandatangani prasasti setelah misa pentahbisan gereja.

Uskup Agung Kupang lebih lanjut menyatakan, Stasi St. Fransiskus dari Asisi Kolhua baru efektif menjadi paroki  1 Januari 2015 mendatang. "Dalam beberapa bulan ini akan diurus administrasinya dan lain-lain. Tanggal 1 Januari 2015 saya akan pimpin misa peresmian paroki di gereja ini bertepatan dengan Hari Perdamaian Sedunia,"  kata Uskup kelahiran Tataaran, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, ini.


Saat memimpin misa, Uskup Turang menegaskan, Fransiskus dari Asisi tidak mengharapkan gedung megah. Suatu hari dia berdoa di Gereja St. Damianus yang nyaris rubuh. Saat itu Yesus membisiknya untuk memperbaiki gereja itu. Dia kembali kepada orangtuanya yang adalah pedagang, mencuri pakaian dan menjualnya dan hasil penjualan pakaian itu digunakan untuk memperbaiki gereja itu.
Ulah Fransiskus dari Asisi itu menimbulkan persoalan sampai ke uskup tapi Fransiskus bersikeras. Bahkan dia membuka pakaian dan menjual untuk pembangunan gereja lalu uskup memberikannya mantel untuk dipakai.

Uskup menegaskan, Fransiskus membangun dalam kesederhanaan dan kesahajaan. Corak kehidupan  Fransiskus dari Asisi, itu diteladani suster-suster ordo Fransiskan.
Dengan peningkatan status Kolhua, maka bertambah satu lagi paroki di Kota Kupang saat ini. Paroki yang sudah lebih dulu antara lain, Paroki Katedral Kristus Raja, Paroki St. Yoseph Naikoten, Sta. Maria Assumpta, Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, Paroki St. Matias Rasuk Tofa, Paroki Sta. Familia Sikumana dan Paroki Oeleta.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada umat Katolik di Stasi Kohua yang telah berhasil membangun gedung gereja. Hal senada disampaikan Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI, Eusabius Bisasasi.   Sebagai wujud rasa syukur atas pentahbisan gereja dan peningkatan status stasi menjadi paroki, umat Kolhua bersukaria hingga Sabtu malam di halaman gereja tersebut. (osi/gem)            


Disambut Tari Hegong dan Kataga


SEJAK dibentuknya kepantiaan pentahbisan Gereja Stasi Fransiskus dari Asisi, umat antusias mulai dari kerja bakti membersihkan sisa material hingga persiapan dan memadati acara puncak Sabtu  (4/10/2014). 

Acara pentahbisan dan persemian gedung gereja itu berlangsung meriah. Rombongan Uskup Agung Kupang, Petrus Turang, Pr dan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dijemput dengan natoni adat, dilanjutkan dengan tarian hegong  menuju Aula TK St. Fransiskus Asisi untuk mengganti pakaian misa. Keluar dari aula TK itu, Uskup bersama 22 imam konselebran diantar dengan tarian kataga memasuki gedung gereja. Di tangga gereja sudah berdiri pagar ayu yang adalah petugas persembahan dengan busana adat dari berbagai etnis  NTT bahkan luar NTT.


Upacara diawali dengan pemberkatan air untuk pemberkatan gedung gereja. Setelah memberkati air, Uskup Turang berkeliling memerciki bagian luar gedung itu, lalu melepaskan dua ekor burung merpati oleh Uskup dan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dilanjutkan dengan pengguntingan pita oleh Ny. Eusabius Binsasi, istri dari Dirjen Bimas Katolik, diikuti pembukaan pintu oleh Uskup dengan memukul tongkat sebanyak tiga kali, lalu Uskup menyerahkan kunci kepada Pastor Stasi St. Fransiskus dari Asisi, Romo Frederik Simon Tamelab, Pr untuk membukanya.

Begitu pintu dibuka, umat dan tamu undangan berarakan masuk untuk mengikuti misa pentahbisan itu. Dalam misa pentahbisan, Uskup juga memberkati panti imam dan pengurapan tiang-tiang dalam gereja. Misa konselebran itu dimeriahkan koor gabungan Pasifika Sonora dan utusan umat dari masing-masing Kelompok Umat Basis (KUB).

Usai misa dilanjutkan dengan acara ramahtama yang diisi dengan berbagai acara hiburan dari masing-masing wilayah. Dalam sambutannya, Ketua Panitia Pentahbisan, Adrianus Ceme menyampaikan terima kasih kepada semua panitia serta umat yang berpartisipasi menyukseskan acara itu.

Dalam sambutannya Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi membangun gereja itu. Gubernur berjanji akan memberikan bantuan lagi untuk perampungan pembangunan gereja bagian luar dan item yang belum selesai, dan meminta Walikota Kupang, Jonas Salean yang hadir saat itu untuk membantu membangun drainase di jalan masuk gereja itu.

Gubernur juga keselo lidah menyebut gereja itu sebagai paroki, namun diralat karena hal itu merupakan ranahnya uskup.

Saat memberikan sambutan, Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr menyatakan stasi itu ditingkatkan menjadi paroki yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2015. Paroki ini membahawi stasi Belo, Noelsinas, Kuaputu, Nefonaek dan Bone. Saat uskup menyampaikan itu umat histeris bergembira. Luapan kegembiraan itu dilanjutkan dengan acara hiburan dan acara bebas hingga tengah malam. (gem)      

       
Sumber: Pos Kupang 6 Oktober 2014 hal 9
Lanjut...

Tiga Even Bergulir di Stasi Asisi Kolhua

Gereja baru St Fransiskus Asisi Kolhua (foto Dion DBP)
PASTOR Stasi Santo Fransiskus Asisi, BTN Kolhua,  Romo Frederik Simon Tamelab, Pr meresmikan pembukaan Turnamen Asisi Cup I,  Sabtu (13/9/2014) pukul 17.00 wita,  di halaman depan gereja St Fransiskus.

Turnamen Asisi Cup I digelar Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St Fransiskus Asisi, Kolhua menyambut peresmian Gereja St  Fransiskus Asisi, dan HUT peresmian gereja pada tanggal  4 Oktober mendatang.

Ketua panitia Asisi Cup I,  Kondradus Silvester Jenalut,  ditemui di sela-sela pembukaan even mengatakan, Asisi Cup I terdiri dari tiga even (turnamen), yakni futsal, voli dan catur  memperebutkan piala Asisi pertama.

Untuk lomba futsal khusus kategori anak-anak usia 15 tahun ke bawah. Lomba futsal antara kelompok umat basis (KUB) dalam wilayah Stasi St Fransiskus Asisi. Sedangkan turnamen voli digelar antar wilayah kategori peserta umum juga turnamen catur perorangan kategori umum. Kegiatan Asisi Cup I/2014   digelar 13-26 September.

Asisi Cup I  digelar  menyambut peresmian gereja sekaligus memupuk persaudaraan antara umat dalam Stasi Santo Fransiskus Asisi BTN Kolhua. "Kami berharap melalui even ini dapat mengasah bakat anak-anak baik itu bidang olaraga futsal, voli maupun catur sekaligus memupuk semangat sportivitas," ujar guru di SMPN 5 Kupang.


Romo Frederik Simon Tamelab, Pr dalam sambutannya mengatakan, Turnamen Asisi Cup I/2014 bertujuan  memupuk rasa persaudaraan diantara umat Stasi Santo Fransiskus Asisi.

"Saya berharap peserta tetap mengutamakan semangat persaudaraan dalam  turnamen ini," ujar Romo Simon.

Pantuan Pos Kupang, Asisi Cup I secara simbolis diawali dengan tendangan bola futsal oleh Rm Frederik Simon Tamelab, Pr. Cabor futsal diikuti 17 tim mewakili KUB masing-masing. Even ini mendapat sambutan meriah umat Stasi  St Fransiskus Asisi BTN Kolhua.

Laga pembuka diawali pertandingan persahabatan OMK Paroki Santa Familia Sikumana vs OMK Stasi Santo Fransiskus Asisi BTN Kolhua. (dd)

Sumber: Pos Kupang 14 September 2014 hal 6

Lanjut...

Kamis, 14 Oktober 2010

Semarak HUT ke-12: Kerinduan yang Baru Terwujud


HIDUP dalam kebersamaan sesama umat stasi St.Fransiskus Asisi BTN Kolhua secara perlahan tetapi pasti akan melahirkan satu karya dalam segala hal.

Ungkapan ini disampaikan Ketua
Dewan Stasi Gereja St. Fransiskus Asisi Kolhua-Kupan
g, Sentis Medi Sera pada puncak perayaan HUT ke-12 Gereja

St. Fransiskus Asisi Kolhua, Minggu (10/10/2010). Perayaan HUT gereja merupakan yang pertama selama 12 tahun kehadiran Stasi FA Kolhua-Kupang.

Sentis menambahkan, pembangunan gereja y
ang hampir rampung merupakan salah satu bukti kebersamaan umat stasi. Tanpa kebersamaan, ujar Sentis, pembangunan gereja tidak akan mengalami kemajuan seperti saat ini.

Ungkapan pentingnya kebersamaan umat, lanjut Sentis, dibuktikan dengan kehadiran Organisasi Muda Katolik (OMK) yang dipercayakan stasi untuk menyelenggarakan kegiatan menyambut perayaan HUT ke-12 Gereja.

OMK, kata Sentis, merupakan barisan pemuda yang memiliki kekuatan dasyat bagi gereja. Kemeriahan penyelenggaraan HUT ke-12 tidak terlepas dari kerja keras OMK yang didukung semua umat stasi Fransiskus Asisi Kolhua.

Hampir sebulan penuh, kata Sentis, umat disuguhkan dengan berbagai pertandingan antar-Kelompok Umat Basis (KUB) seperti pertandingan bolavoli putra dan putri, catur dan lomba tarian ja'i.

Puncak acara diawali perayaan dengan misa kudus yang dipimpin Pastor Paroki St. Familia Sikumana-Kupang, Rm.
Agus Parera, Pr.

Gembala umat ini mengajkan kepada umat untuk selalu kembali kepada kebenaran Ilahi. Manusia yang sering jatuh dalam dosa harus memiliki keberanian untuk bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.

Perayaan misa berlangsung meriah dengan nyayian merdu paduan suara dari Pasifika Sonora. Umat terkesima dengan Hyme St. Fransiskus Asisi yang baru dinyanyikan Pasifika Sonora.

Kemeriahan HUT Stasi terus berlanjut dengan aksi panggung para anggota OKM Stasi. Dipadukan dengan tarian Ja'i dari KUB St. Yosep Wilayah II disusul dengan Dance dari anak- anak sekami KUB St. Benediktus.

Kebersamaan umat kian nyata saat santap siang bersama. Umat yang bergabung dalam setiap KUB secara sukarela menyumbangkan makanan lokal kepada. Pangan lokal seperti jagung bose, ubi goreng, sayur rumpu rampe, sambal goreng ubi, jagung rebus tanpak lezat dinikmati dengan sambal tomat dan kemangi.

Panggung kemeriahan belum juga usai, meskipun matahari sudah tepat di atas kepala. Kehadiran umat belum berkurang bahkan kian bertambah saat lagu Ja'i berkemundang di halaman Gereja St.Fransiskus Asisi Kolhua.

Luapan kegembiaraan kian mengental di setiap wajah umat yang selama sebulan penuh terlibat dalam kegiatan perlombaan. Semuanya berakhir di atas pelataran yang dibangun OMK sebagai panitia tunggal penyelenggaraan HUT ke-12. (ros woso)

Juara Pertandingan dan Lomba

Voli Putra
Juara I: KUB St.Andreas
Juara II: KUB Antonius Padua
Juara III: St.Rafael

Voli Putri
Juara I: KUB Gregorius Agung
Juara II: KUB St.Yosep
Juara III: KUB St.Rafael

Catur
Juara I: Marianus Dasilva
Juara II: Chris Lewar (KUB Arnoldus Yansen)
Juara III: Petrus Nahak (KUB Bintang Timur)

Tarian Ja'i
Juara I: KUB St.Yosep
Juara II: KUB Renya Rosari
Juara III: KUB Arnoldus Yansen
Lanjut...

Jumat, 08 Oktober 2010

Marilah Berubah Menjadi Lebih Baik

Oleh Louis Fernandez

MASA lalu, masa sekarang, dan masa akan datang. Itulah pembagian waktu yang terjadi dalam lingkaran kehidupan manusia (bdk. Why 1:7-8). Setiap manusia pasti merasakan pembagian waktu tersebut. Secara mendasar bahwa manusia ada serta hidup dalam waktu dan ruang. Itu tidak dapat dipungkiri lagi. Itu suatu realitas yang ada dalam kehidupan setiap manusia. Setiap manusia akan merasakan sesuatu yang berbeda.

Masa lalu akan berbeda dengan masa sekarang dan masa akan datang. Setiap waktu akan selalu bebeda, karena kehidupan ini selalu mengalir. Bumi selalu berputar, yang menyebabkan bahwa dunia ini tidak ada yang tetap. Waktu akan mengalir dari masa lalu menjadi masa sekarang, dan kemudian menjadi masa akan datang. Jelas bahwa manusia akan berubah karena manusa berada dalam ruang waktu itu.

Masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang merupakan unsur pembentuk waktu. Ketiga unsur pembentuk ini tidak dapat dipisahkan, ketiganya selalu terkait erat. Keterkaitannya nampak jelas bahwa masa lalu adalah sejarah, masa sekarang adalah anugerah, dan masa akan datang adalah misteri.


Masa lalu adalah sejarah yang mau tidak mau tidak dapat ditolak keberadaannya. Baik dan buruknya tidak dapat ditolak. Setiap manusia pasti pernah merasakannya baik-buruknya masa lalu. Masa kini adalah masa dimana semua yang terjadi di masa lalu dirubah menjadi lebih baik. Masa ini adalah masa transisi. Jadi apa yang dirasakan sekarang janganlah dianggap itu sudah cukup. Tapi masa sekarang adalah masa transisi menuju masa akan datang, yang penuh dengan misteri. Masa akan datang selalu dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan dan harapan. Dalam menghadapi masa akan datang ini, sering terjadi bahwa perasaan takut yang muncul. Begitu terkaitnya masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang, sehingga ketiganya tidak harus dipisahkan dalam sudut pandang atau pemikiran manusia.

Saat ini menunjukkan banyak perubahan yang terjadi pada manusia. Segala sesuatu yang dibicarakan itu bertujuan pada suatu titik yang levelnya sangat tinggi. Segala perencanaan masa depan sering ada pada level tinggi. Ini menyebabkan banyak orang cuma mau menikmati masa sekarang saja. Mereka tidak mampu merencanakan tujuan yang level tinggi, karena berbagai macam alasan. Dengan begitu juga bahwa kita tidak dapat mempersalahkan bahwa orang tidak mau merencanakan tujuan hidup pada level tinggi. Satu hal yang harus dilakukan adalah refleksi atau introspeksi.

Tidak terasa bahwa Gereja Santo Fransiskus Asisi ini telah berusia 12 tahun. Usia ini tidak boleh dianggap usia masih dini. Semua anggota Gereja Santo Fransiskus patut berbangga dengan usia ini. Tapi umat Gereja Santo Fransiskus Asisi tidak hanya patut berbangga. Umat sebaiknya refleksi dan memaknai arti ulang tahun ini. Gema ultahnya seharusnya menantang, menggugah dan menuntut umatnya untuk berubah, yang dalam arti bertumbuh ke arah kesempurnaan (Ef 4;13-16).
Dalam pengamatan saya, sesuatu yang belum nampak kokoh dalam perjalanan 12 tahun adalah kebersamaan. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Bapak Remus Fernandez. Menurut beliau kebersamaan inilah yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan. Beliau menilai bahwa selama ini kebersamaan hanya pada saat hari minggu (setelah keluar dari gereja), itupun hanya terjadi pada umat-umat tertentu saja. Oleh karena itu, menurut beliau harus sering diadakan kegiatan-kegiatan yang dapat semakin mempererat kebersamaan sebagai komunitas Gereja (Yunani: koinonia).

Selain pengurus dewan yang harus mewujudkan kebersamaan itu, Orang Muda
Katolik (OMK) Gereja Santo Fransiskus Asisi juga harus bisa membantu mewujudkannya. Saya berpendapat bahwa Orang Muda Katolik adalah suatu organisasi kepemudaan yang ada di dalam gereja. Tentu saja bahwa anggotanya adalah pemuda-pemudi dalam lingkungan gereja. Semangat kaum muda yang sangat dibutuhkan dalam mewujudkan kebersamaan itu.

Sejalan dengan pendapat Bapak Remus Fernandez ini, kemudian OMK diarahkan untuk mewujudkan kebersaman itu. Dengan memanfaatkan moment ulang tahun Gereja Santo Fransiskus Asisi, OMK mengadakan perlombaan-perlombaan. Perlombaan-perlombaan itu antara lain, perlombaan voli dan perlombaan catur. Perlombaan-perlombaan ini bertujuan untuk semakin mempererat rasa persaudaraan diantara umat Gereja Santo Fransiskus Asisi. Selain itu juga bahwa dengan diadakan perlombaan ini, teman-teman OMK belajar tanggung jawab.

Namun demikian bahwa kegiatan-kegiatan yang bertujuan mempererat persaudaraan tidak hanya berhenti pada saat menjelang ulang tahun Gereja. Masih banyak kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan. Semua unsur gereja dapat saling bekerja sama untuk mewujudkan kebersamaan itu. Pengurus, OMK, dan umat lainnya dapat berkreasi untuk mewujudkan itu.

Menurut saya, perayaan natal dan tahun baru bersama, perayaan valentine day, paskah bersama, dan lain sebagainya, merupakan moment yang tepat untuk semakin mewujudkan kebersamaan itu, Dengan begitu masa depan Gereja Santo Fransiskus Asisi akan menjadi cerah untuk dilihat. Sehingga prestasi juga dapat dengan mudah untuk diraih, jika kebersamaan itu sudah menjadi kokoh. Kita belum terlambat mewujudkan merealisasikan itu.*
Lanjut...

Selasa, 07 September 2010

Asisi Dapat Kucuran Rp 75 Juta

STASI Santu Fransiskus Asisi Kolhua-Kupang mendapat kucuran dana program kemitraan bina lingkungan (PKBL) untuk rumah ibadah dari PT Askes (Persero) sebesar Rp 75 juta. Penyerahan dilakukan Direktur Operasional PT Askes (Persero), Umbu M Marisi, kepada Ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS) Fransiskus Asisi, Sentis Medi, di stasi setempat, Senin (6/9/2010).

Sebelumnya, pada 28 November 2009, PT Askes menyerahkan bantuan serupa untuk Stasi Fransiskus Asisi Kolhua Kupang sebesar Rp 50 juta. Dana ini diserahkan langsung oleh Direktur Utama PT Askes, I Gede Subawa. Dengan demikian, total dana bantuan PT Askes untuk Stasi St. Fransiskus Asisi sebesar Rp 125 juta. Dana ini digunakan untuk merampungkan pembangunan Gereja St. Fransiskus Asisi yang telah dimulai enam tahun lalu.

"Mudah-mudahan seremoni penyerahan bantuan ini terulang lagi tahun depan. Uluran tangan pihak ketiga, termasuk PT Askes, sangat kami butuhkan untuk merampungkan pembangunan gereja kami ini," ujar Sentis Medi.

Direktur Operasional PT Askes (Persero), Umbu M Marisi, mengatakan, penyaluran dana PKBL merupakan salah satu bentuk kepedulian PT Askes kepada masyarakat sebagai peserta Askes. Pun sebagai tanggung jawab sosial PT Askes yang diwujudkan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR).

Pada tahun 2008, kata Umbu Marisi, PT Askes mengalokasikan dana PKBL sebesar Rp 19.555.000.000, realisasinya sebesar Rp 10.263.012.541 atau 52,48 persen. Alokasi dana ini, katanya, meningkat sebesar 273,06 persen dari realisasi tahun 2007 sebesar Rp 2.751.024.216.

Dana PKBL, diakui Umbu Marisi, antara lain disalurkan melalui Program PT Askes Peduli, bantuan bencana alam, bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan pengadaan sarana dan prasarana umum, bantuan sarana ibadah dan bantuan pelestarian alam.

Untuk merampungkan pembangunan gedung gereja St. Fransiskus Asisi, panitia masih membutuhkan dana sekitar Rp 1.512.000.000. Dana ini digunakan untuk pembuatan tembok basement dan gereja Rp 205 juta; pembuatan kusen, daun pintu/jendela dan kaca Rp 44 juta; pengerjaan plafond Rp 22 juta; pemasangan keramik lantai Rp 273 juta; pembuatan tangga Rp 50 juta; pengerjaan tembok ornamen depan gereja Rp 198 juta; pengerjaan teras Rp 59 juta; pembangunan menara lonceng Rp 40 juta; pengecatan Rp 102 juta dan lain-lain Rp 321 juta. (eni)

Pos Kupang, 7 September 2010 halaman 17
Lanjut...

Sabtu, 10 Januari 2009

KAK Gelar Pelatihan Keuangan Mikro bagi Para Imam

KUPANG, NTT -- Setelah belajar tentang keuangan mikro sebagai sarana untuk menjawab kemiskinan, para imam Keuskupan Agung Kupang sepakat untuk menghidupkan kembali koperasi di setiap paroki. 

Keuskupan agung yang berpusat di Kupang, ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur, mengadakan pelatihan itu dari tanggal 12 hingga 17 Maret di rumah retret Suster-Suster Abdi Roh Kudus (SSpS) di Kampung Belo, Kupang. 

Hadipurnama Chandra, anggota pengurus inti Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi PSE KWI), memimpin pelatihan itu. Pelatihan itu diikuti 47 pastor dari 22 paroki, komisi-komisi dan lembaga keuskupan serta 4 pekerja awam dari komisi PSE keuskupan agung itu. 

Chandra mengatakan kepada UCA News pelatihan untuk memperkenalkan prinsip-prinsip keuangan mikro kepada para pastor agar dalam kegiatan pastoralnya mereka memiliki wawasan tentang bagaimana “membantu mensejahterakan umatnya”. 

Topik-topik yang diberikan antara lain pengertian keuangan mikro, lembaga keuangan mikro, kemiskinan permasalahan bersama, langkah-langkah untuk menjadi lembaga simpan-pinjam, uang sebagai jasa pastoral, keberhasilan kredit mikro, dan simpan-pinjam sebuah institusi jasa keuangan. 

Setelah presentasi, diskusi, dan sharing, peserta sepakat untuk menghidupkan kembali Yayasan Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Kupang (Yapenskak) dan untuk membentuk atau menghidupkan kembali koperasi-koperasi di setiap paroki. 

Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang memberikan masukan dalam pelatihan itu tanggal 16 Maret. Ia mengatakan yayasan itu adalah organisasi nonprofit yang menyelamatkan orang dari keterpurukan ekonomi dan kemiskinan. Menghidupkan kembali Yapenskak sebagai wadah koperasi untuk keuangan mikro adalah “aksi nyata untuk menjawab pertanyaan apa yang harus dibuat Keuskupan Agung Kupang setelah menyelenggarakan pelatihan keuangan mikro”, lanjutnya. 

Uskup agung, yang mengetuai Komisi PSE KWI itu menjelaskan, keuangan mikro relevan dengan kepedulian dan misi pastoral Gereja untuk membantu orang miskin. Seorang imam, katanya, “...mempunyai kewajiban religius untuk memperhatikan kesejahteraan umat.” 

Uskup agung itu menjelaskan bahwa Yapenskak adalah sebuah gerakan bersama untuk memayungi kegiatan umat di paroki-paroki. Ia memprediksi, yayasan itu akan berkembang pesat jika semua umat Katolik keuskupan agung itu memberikan kontribusi seperti tabungan wajib serta tabungan lainnya. 

Menanggapi rencana peserta untuk menindaklanjuti pelatihan itu dengan membangun koperasi di setiap paroki, Uskup Agung Turang sepakat bahwa setiap paroki harus mempunyai koperasi. Namun ia menambahkan perhatian: “Anggota jangan melihat koperasi umat sebagai pelayanan karitatif tetapi sebagai usaha bersama untuk memerangi kemiskinan. Jadi harus dibedakan antara pelayanan karitatif dan usaha.” 

Menurut sekretaris uskup agung itu, Pastor Gerardus Duka, Yapenskak didirikan di keuskupan itu beberapa tahun lalu namun pengelolaannya tidak profesional. "Untuk menghidupkan kembali Yapenskak, sangat tepat, tapi harus dikelola oleh orang-orang yang profesional”, ujarnya. 

Uskup Agung Turang menutup pelatihan itu. Pada akhir pelatihan itu, para imam mengeluarkan enam poin rekomendasi yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan. Mereka ingin kegiatan simpan-pinjam dan koperasi harus menjadi gerakan bersama dalam membangun umat dan masyarakat di seluruh paroki dalam wilayah keuskupan itu. 

Imam-imam itu mengungkapkan perlunya wadah pendidikan dan pelatihan tentang keuangan mikro dan penguatan koperasi yang sudah ada di paroki-paroki. Mereka juga merekomendasikan untuk membentuk tim, yang difasilitasi oleh Komisi PSE keuskupan agung itu dan didukung oleh tenaga yang profesional, untuk mengatur segala yang berhubungan dengan gerakan bersama simpan-pinjam. 

Uskup Agung Turang mengatakan, tugas para pastor yakni “....mengumpulkan anggota dewan pastoral paroki, ketua-ketua KUB dan tokoh awam lainnya untuk melakukan sosialisasi hasil dari pelatihan itu.” 

Pastor Kornelis Usboko, pastor pembantu Paroki St. Familia Sikumana, mengatakan kepada UCA News, 21 Maret, ia menyambut baik kesepakatan para pastor itu dan dukungan Uskup Agung Turang. Dengan meningkatkan kesejahteraan ekonomi, “...para imam bekerja bukan hanya menyelamatkan jiwa tapi juga jasmani mereka”, tegas imam itu. 

Menurut data pemerintah Mei 2006, Keuskupan Agung Kupang memiliki 134.142 umat Katolik. Diantara mereka, 50.686 orang, atau 9.533 dari 22.791 keluarga, tergolong yang miskin. (*)


Sumber http://christianview.14.forumer.com/viewtopic.php?t=321
Lanjut...

Beras Sido Muncul untuk Umat Fetonai dan Bone

KUPANG, PK -- Pastor Paroki Sta. Familia Sikumana Kupang, Romo Kornelis Usboko, Pr, menyerahkan bantuan beras dan mie sedap dari PT Sido Muncul untuk umat Stasi Fetonai dan Bone, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Senin (29/9/2008). Sebelumnya, Sabtu (13/9/2008), bantuan sosial ini diserahkan Dirut PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, kepada Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, disaksikan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya.

Disaksikan Pos Kupang, kemarin, meski bantuan baru diserahkan pukul 14.00 wita, umat Stasi Fetonai, Desa Tasikona, sudah berkumpul di kapela setempat pukul 11.00 wita untuk mendengarkan pesan-pesan rohani dan peneguhan dari Pastor Paroki Sta. Familia Sikumana Kupang, Romo Kornelis Usboko, Pr.

"Bantuan ini merangsang umat sekalian untuk membangun gereja mandiri. Misi lainnya, bantuan ini memotivasi Anda untuk bekerja keras," ujar Romo Kornelis yang saat itu didampingi Ketua DPP Sta. Familia Sikumana, Kanis Beka; Ketua DPS St. Fransiskus Asisi Kolhua, Sentis Medi; Penasihat DPS Asisi Kolhua, Ben Labre; dan Ketua Wilayah II Asisi Kolhua, Johanis Mau. 

"Semua umat, yang hadir maupun tidak hadir di kapela ini, mendapat bantuan beras ini. Setiap kepala keluarga mendapat satu karung beras. Jangan hanya ingat untuk diri sendiri," pesan Romo Kornelis. Sementara penyaluran beras untuk umat di Stasi Bone, kemarin, dilakukan oleh Delsos Keuskupan Agung Kupang. 

Kehadiran Ketua DPS St. Fransiskus Asisi Kolhua, Sentis Medi, di Fetonai, kemarin, sekaligus untuk memantau perkembangan pembangunan fisik kapela setempat sebagai tanggungan umat Stasi Fransiskus Asisi. Pembangunan Kapela Sta. Maria Ratu Damai Fetonai itu hampir rampung, menyisakan pemasangan plafon, lantai semen dan pembangunan menara. "Pembangunan harus dilanjutkan lagi khususnya lantai. Umat harus mengumpulkan pasir dan menyalurkan air sampai di lokasi kapela ini. Kalau sudah tersedia, umat di BTN menyalurkan semen dan langsung kerja," pesan Sentis.

Untuk diketahui, bantuan untuk umat Stasi Fetonai dan Bone merupakan gabungan sumbangan dari PT Sido Muncul senilai Rp 200 juta, partnernya seperti Mie Sedap berupa 2.000 karton mie instan senilai Rp 86,6 juta, Radja Besi Semarang senilai Rp 50 juta, Dwi Sapta Pratama Adv Rp 15 juta, Marimas Rp 10 juta, Antony Vharanat Rp 10 juta, PT Mane Indonesia Rp 10 juta, Firmenich Rp 20 juta dan Ibu Mona senilai Rp 2 juta. (eni) 
Lanjut...

Sekami Stasi St. Fransiskus Asisi berbagi kasih

Kupang, PK -- Sekitar 50 anak yang tergabung dalam Serikat Kepausan Anak-Anak Misioner (Sekami) Gereja Stasi Santu Fransiskus Asisi BTN Kolhua-Kupang, saling membagi kasih dengan sesama yang tak mampu dengan cara mengunjungi Panti Asuhan de Monfort Santa Familia-Sikumana, Minggu (23/4).

Kunjungan persaudaraan ini dipimpin Pembina Sekami Stasi Santu Fransiskus Asisi BTN Kolhua, Ny. Lusia Odjan bersama orangtua. Anak-anak Sekami bersama pembina dan orangtua mulai berangkat dari Gereja Stasi Santu Fransiskus Asisi BTN Kolhua sekitar pukul 10.00 Wita.

Menurut Ny. Lusia Odjan, yang biasa disapa Oma Odjan ini, kunjungan ini bertujuan untuk mengajak anak-anak Sekami melihat sisi hidup anak-anak yang lain selain dirinya yang menetap di panti-panti asuhan. "Kunjungan itu untuk menambah rasa kemanusiaan anak-anak Sekami sekaligus menyadari kalau dirinya memiliki keberuntungan dari sesamanya yang hidup di panti asuhan," kata Ny. Odjan.

Selain itu, kata Ny. Odjan, kebersamaan dengan anak-anak yatim piatu dapat menyadarkan anak-anak Sekami untuk bisa saling menolong kepada sesama. "Rasa ingin memberi, memberi pertolongan kepada sesama yang lain akan tumbuh dengan sendirinya apabila anak-anak diperkenalkan dengan sisi kehidupan yang lain selain kehidupan keluarganya sendiri," ujar Ny. Odjan.

Saat melakukan kunjungan tersebut, kata Ny.Odjan, anak-anak diwajibkan membawa makanan sendiri. Makanan yang disiapkan bukan hanya untuk dimakan oleh anak-anak Sekami, tetapi juga diberikan dan makan bersama anak-anak panti asuhan. Makan bersama ini, kata Ny Odjan, untuk mengajak anak-anak Sekami memberi miliknya kepada orang lain. (osa)


Mencari teman sendiri

SUASANA di Panti Asuhan de Monfort Santa Familia Sikumana hari Minggu (23/4) benar-benar ramai. Kedatangan puluhan anak Sekami Stasi Santu Fransiskus Asisi BTN Kolhua, pembina dan orangtua anak benar-benar membuat suasana di panti itu menjadi hidup. Di sana ada tawa, ada candaria, saling berbagi kasih dan menyanyi.

Kedatangan ‘tamu-tamu’ dari BTN Kolhua ini disambut empat suster selaku pembina panti asuhan berikut para anak-anak penghuni panti asuhan. Tak lama setelah acara penerimaan, dilakukan aneka lomba, seperti lomba gigit sendok, memasukkan lidi bendera ke dalam botol, serta lomba makan kerupuk. Dalam lomba ini, anak-anak Sekami berbaur dengan anak-anak panti mengikuti lomba demi lomba yang disiapkan pembina dari BTN Kolhua.

Sekitar pukul 11.30 Wita, bertepatan selesainya berbagai kegiatan lomba dilanjutkan dengan acara makan bersama. Ada hal menarik dalam acara makan bersama ini. Anak-anak Sekami yang semuanya datang dengan membawa bekal (makanan) lebih disuruh mencari teman sendiri di antara anak panti dan membagikebahagiaan dengan memberikan makanan yang telah disiapkan.

Permintaan ini pun spontan dijalankan anak-anak Sekami. Mereka ‘menyerbu’ anak-anak panti yang duduk di bagian selatan gedung panti. Tapi karena jumlah makanan yang dibawa lebih banyak dari jumlah anak panti maka ada di antara anak-anak Sekami yang tidak mendapatkan teman untuk diberikan makanan yang telah disiapkannya. Sebab, semua anak-anak panti sudah mendapatkan jatah makanan.

"Kami sudah tidak dapat teman lagi karena mereka (anak-anak panti, Red) semuanya sudah dapat nasi," kata seorang anak Sekami dan beberapa teman lainnya. Tapi, nasi yang telah disiapkan ini tidak disia-siakan karena anak-anak Sekami langsung diarahkan pembina untuk menyimpan nasinya di atas meja yang sudah disiapkan untuk dimakan anak-anak panti pada malam harinya. Kebahagian anak-anak Sekami, panti asuhan, dan para orangtua nampak terasa pada acara makan bersama ini. (kas)
Lanjut...

Jumat, 09 Januari 2009

Tumbuhkan minat baca Kita Suci

DALAM rangka memperingati Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2007, Stasi St. Fransiskus Asisi, BTN-Kolhua, Kupang menggelar lomba baca kitab suci, quis dan teka teki silang (TTS) kitab suci. Kegiatan ini melibatkan pelajar dari SD sampai SLTA dan masyarakat umum berlangsung sejak 15 September sampai 30 September 2007, dibuka oleh Romo Joachim Konis, Pr (saat itu masih menjabat diakon) mewakili pastor paroki. Pembagian hadiah baru dilangsungkan pada Minggu (14/10/2007) di gereja stasi tersebut.

Ketua Dewan Pastoral Stasi BTN Kolhua, Kupang, Vincentius S Medi Sera, mengatakan, lomba baca kitab suci, quis dan TTS selain untuk memeriahkan bulan kitab suci nasional, juga untuk menumbuhkan minat baca kitab suci (KS) dan mempertebal pendalaman iman terhadap firman Tuhan yang tertera dalam ayat-ayat kitab suci tersebut. 

Panitia penyelenggara, kata Medi Sera, berusaha mengemas sejumlah kegiatan positif dan konstruktif bagi umat, khususnya kaum muda dan anak-anak di stasi tersebut untuk mengapresiasikan penghayatan firman Tuhan. 

Anak-anak sekolah yang mengikuti lomba baca dan quis kitab suci sangat antuasias mengikuti acara ini. Masing-masing peserta dari setiap kelompok umat basis (KUB) datang dengan para suporternya. Akibatnya, setiap hari Minggu ketika digelar lomba quis dan baca, gereja jadi ramai dengan para penonton.
Lomba baca kitab kategori SD menampilkan dewan juri, Ny. ML Odjan-Diaz, Emi Cheunvin dan Maria Dasman. Kategori SMP dewan jurinya, Helena Fernandez, Theresia Nona Manggut dan Domi Klau Bria, kategori SLTA dewan jurinya, Lily Nai Nuka, Peter R Manggut dan Wellem B Beribe. (*)

Para juara lomba baca kitab suci :
Kategori SD:
Juara I : Maria J. Candry Sudirman 
Juara II : Stefani Novi Ega B. Burin
Juara III : Helmin Larantukan 
Juara Harapan I: Yesi Paga
Juara Harapan II: Maria Ivanna Gan

Kategori SMP :
Juara I : Mauren Labre 
Juara II :Yoan Nuka
Juara III : Isabella Kilimandu
Juara Harapan I : Stefania Wora 
Juara Harapan II: Pricilla L.W Astuti R. Seda 
Juara Favorit : Ivanna Gan 

Kategori SLTA :
Juara I : Ensi Sero
Juara II : Kondradus Silvester Jenahut
Juara III : Lia 
Juara Harapan I : Bertha Novatlia Taku 
Lanjut...