Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 04 Oktober 2010

TK Maria Assumpta Fokus Perilaku Anak

AKHIR pekan 29 September 2010 merupakan hari istimewa bagi Yayasan Binawirawan. Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini merayakan ultahnya ke-36. Salah satu sekolah yang berada dalam payung yayasan ini adalah TK Maria Assumpta-Kota Baru.

Pagi itu, TK Maria Assumpta tampil beda dari hari-hari sebelumnya. Tawa dan canda mewarnai empat kelas yang berada di sekolah itu. Ada anak yang bernyanyi, duduk menunggu pembagian makanan, ada berdoa untuk santap siang. Ada juga yang tengah menikmati makanan bersama teman sebaya di kursi masing-masing.

Keceriaan anak-anak lebih kental lagi dengan kehadiran anak- anak TK St. Fransiskus Asisi BTN Kolhua yang turut merayakan ulang tahun yayasan dalam sebuah misa syukur. Mereka berbaur menjadi satu, dipandu oleh guru masing- masing.

Suasana akrab bukan hanya di dalam kelas, saat anak-anak menikmati makan siang. Di luar sekolah pun, beberapa orangtua saling bercanda menunggu akhir kegiatan ulang tahun yayasan itu. Suasana perayaan tampak ceria, halaman sekolah yang luas dan hijau. Ada belasan tanaman peneduh. Ada beringin, cemara, evergreen, menambah suasana sejuk meski matahari mulai menebarkan hawa panas.

Kepala TKK Maria Assumpta, Sr. Leonita CIJ, yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/9/2010), menjelaskan, 112 siswa yang belajar saat ini secara bertahap diasuh sesuai dengan standar kompetensi taman kanak-kanak. Jangka panjangnya, lembaga yang dipimpinnya akan menggunakan pola permainan sentra balok.

Sebelum melaksanakan kurikulum baru itu, kata Sr. Leonita, pihaknya masih fokus pada pendidikan perilaku anak.
Secara teoretis, aspek pengembangan dipadukan dalam bidang pengembangan pembentukan perilaku melalui pembiasaan. Bidang ini, ujar Sr. Leonita, meliputi moral, nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian. Sedangkan pengembangan kemampuan dasar meliputi kemampuan berbahasa, kognitif, motorik dan seni.

Konkretnya, kata suster asal Lembata ini, perilaku anak merupakan dasar pijak pendidikan di lembaga yang dipimpinnya. Ada tiga aspek yang ditekankan, yakni sikap, emosional dan sosial.

Sr. Leoni menambahkan, para guru mengajarkan hal-hal yang sederhana dan praktis. Sikap anak perlu dibentuk sejak dini seperti sopan santun. Saat tiba di sekolah, anak memberi salam kepada guru dan suster. Hal yang sama berlaku juga saat pulang sekolah.

Begitu pun pengembangan emosional, kata Sr.Leoni, anak perlu diajarkan bagaimana dengan sabar menunggu giliran. Saat antrean mencuci tangan maupun baris-berbaris masuk ke ruang kelas. Anak diajak untuk lebih sabar menunggu kapan waktunya tiba mencuci tangannya sendiri sebelum makan.

Sedangkan pengembangan sosial, lanjut Sr. Leonita, anak diajak untuk peduli dengan sesama yang kekurangan. Ada anak yang tidak membawa makanan. Anak yang lain diharapkan untuk membagi makanan kepada anak yang tidak membawa makanan.
Ketersediaan fasilitas bermain di halaman sekolah, kata Sr.Leoni, merupakan salah satu cara yang disiapkan lembaganya untuk memenuhi kebutuhan anak.

Cara mengajar kepada anak TKK, kata Sr.Leonita, tentu beda dengan orang dewasa. Anak lebih suka dengan bermain. Bermain adalah salah satu pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kegiatan bermain dilakukan dalam suasana menyenangkan.

Strategi dalam bermain, kata Sr.Leonita, menggunakan bahan yang menarik dan mudah diikuti anak. Anak diajak untuk bereksplorasi sehingga proses bermain menjadi bermakna bagi anak. (rosalina woso)
Lanjut...

Selasa, 07 September 2010

Asisi Dapat Kucuran Rp 75 Juta

STASI Santu Fransiskus Asisi Kolhua-Kupang mendapat kucuran dana program kemitraan bina lingkungan (PKBL) untuk rumah ibadah dari PT Askes (Persero) sebesar Rp 75 juta. Penyerahan dilakukan Direktur Operasional PT Askes (Persero), Umbu M Marisi, kepada Ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS) Fransiskus Asisi, Sentis Medi, di stasi setempat, Senin (6/9/2010).

Sebelumnya, pada 28 November 2009, PT Askes menyerahkan bantuan serupa untuk Stasi Fransiskus Asisi Kolhua Kupang sebesar Rp 50 juta. Dana ini diserahkan langsung oleh Direktur Utama PT Askes, I Gede Subawa. Dengan demikian, total dana bantuan PT Askes untuk Stasi St. Fransiskus Asisi sebesar Rp 125 juta. Dana ini digunakan untuk merampungkan pembangunan Gereja St. Fransiskus Asisi yang telah dimulai enam tahun lalu.

"Mudah-mudahan seremoni penyerahan bantuan ini terulang lagi tahun depan. Uluran tangan pihak ketiga, termasuk PT Askes, sangat kami butuhkan untuk merampungkan pembangunan gereja kami ini," ujar Sentis Medi.

Direktur Operasional PT Askes (Persero), Umbu M Marisi, mengatakan, penyaluran dana PKBL merupakan salah satu bentuk kepedulian PT Askes kepada masyarakat sebagai peserta Askes. Pun sebagai tanggung jawab sosial PT Askes yang diwujudkan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR).

Pada tahun 2008, kata Umbu Marisi, PT Askes mengalokasikan dana PKBL sebesar Rp 19.555.000.000, realisasinya sebesar Rp 10.263.012.541 atau 52,48 persen. Alokasi dana ini, katanya, meningkat sebesar 273,06 persen dari realisasi tahun 2007 sebesar Rp 2.751.024.216.

Dana PKBL, diakui Umbu Marisi, antara lain disalurkan melalui Program PT Askes Peduli, bantuan bencana alam, bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan pengadaan sarana dan prasarana umum, bantuan sarana ibadah dan bantuan pelestarian alam.

Untuk merampungkan pembangunan gedung gereja St. Fransiskus Asisi, panitia masih membutuhkan dana sekitar Rp 1.512.000.000. Dana ini digunakan untuk pembuatan tembok basement dan gereja Rp 205 juta; pembuatan kusen, daun pintu/jendela dan kaca Rp 44 juta; pengerjaan plafond Rp 22 juta; pemasangan keramik lantai Rp 273 juta; pembuatan tangga Rp 50 juta; pengerjaan tembok ornamen depan gereja Rp 198 juta; pengerjaan teras Rp 59 juta; pembangunan menara lonceng Rp 40 juta; pengecatan Rp 102 juta dan lain-lain Rp 321 juta. (eni)

Pos Kupang, 7 September 2010 halaman 17
Lanjut...

Selasa, 31 Agustus 2010

Uskup Agung Kupang Dialog Dengan Pekerja Media

WARTAWAN mengemban tugas pewartaan yang istimewa, karena mewartakan realita kehidupan manusia. Untuk itu wartawan harus banyak membaca supaya berita yang diwartakan bisa memberikan pencerahan dan pendidikan bagi sesama.

Hal ini dikatakan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, ketiga berdialog dengan puluhan pekerja media komunikasi beragama Katolik dari berbagai media massa di Susteran SSpS Belo, Minggu (15/8/2010). Uskup Turang mengatakan, wartawan karena panggilan tugasnya mempunyai banyak relasi, sehingga harus menjadi pembuat jembatan besar supaya semua orang bisa melewati jembatan itu.

Jembatan besar yang dimaksudkan adalah jembatan pendidikan, ekonomi, hukum dan sosial kemasyarakatan. Wartawan mengemban tugas menghantar sesamanya ke jembatan itu, tapi tidak menghakimi.

Uskup Turang mengingatkan, media tempat wartawan bekerja agar jangan hanya mengejar keuntungan saja. Di mana saja, katanya, media selalu untung. Wartawan juga jangan hanya mengejar pendapatan karena nanti akan kesulitan sendiri.

Tugas mulia seorang wartawan antara lain menyajikan berita dan tulisan yang membawa perubahan kehidupan banyak orang. "Orang miskin, misalnya, perlu dibantu dengan berita-berita yang membangkitkan gairahnya untuk berusaha. Orang miskin juga perlu dibantu dengan berita-berita sehingga ada perhatian dari orang lain dalam membantu mereka. Tugas dan tanggung jawab itu ada di wartawan," kata Uskup Turang.

Uskup Turang menggambarkan wartawan ada dua tipe. Tipe pertama yang berorientasi perolehan. Wartawan tipe ini sering berpindah-pindah media atau yang dikenal wartawan kutu loncat. Tipe kedua, wartawan idealis yang betul-betul mengemban tugas pewartaan. Wartawan tipe ini dikenal dengan kutu lak.

Uskup menyarankan agar wartawan membangun tim kerja yang handal sehingga tidak menjadi asing sendiri. Orang yang berjalan sendiri, katanya, lebih mementingkan ego daripada kerja sama dalam sebuah kebersamaan. (gem)

Sumber: Pos Kupang, 16 Agustus 2010 halaman 14
Lanjut...

Keluarga adalah Seminari Awal

KUPANG, PK -- Keluarga Katolik merupakan tempat penting untuk mendidik calon imam. Ini penting untuk integritas kehidupan intelektual dan kepribadian calon imam.

Keluarga-keluarga Katolik sebagai pendidikan awal atau seminari awal hendaknya mendidik anak-anaknya sehingga membantu Gereja dalam proses pembinaan calon imam” kata Ketua Komisi Seminari Konferensi- Wali Gereja Indonesia (KWI), Mgr. Dr Dominikus Saku, Pr pada perayaan ekaristi penutupan pertemuan para rektor Seminari Tinggi se-Indonesia di paroki Katedral Kristus Raja Kupang, Kamis (8/7/2010).

Para rektor seminari se-Indonesia itu melakukan pertemuan di Hotel Sylvia-Kupang, Senin (5/7/2010) hingga Kamis (8/7/2010).

Sebelumnya, Romo Paul Suparno SJ yang menjadi pembicara pada hari kedua, Selasa (6/7/2010), menegaskan tentang pentingnya keseimbangan pembinaan rohani dan intelektual. Menurutnya, pembinaan calon imam Katolik hendaknya memperhatikan keselarasan antara kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.

Rm. Patris Neonnub, Pr dan Fr Amanche Franck Oe Ninu, mengutip keterangan sekretariat panitia pertemuan tersebut, menjelaskan, tema pertemuan para rektor seminari se-Indonesia itu adalah "Pentingnya Pembinaan Holistik Intelektual dan Kehidupan Kepribadian Calon Imam Katolik".

Pertemuan tersebut diawali perayaan ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Pr Senin di Gereja St. Yoseph Naikoten Kupang.
Dalam pertemuan itu, kata Neonnub dan Ninu, para rektor saling membagi pengalaman mengenai pembinaan calon imam di seminari tinggi yang mereka pimpin.

Para rektor seminari tinggi itu juga sempat mengunjungi Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian dan Seminari Menengah Santa Maria Imacullata Lalian-Belu pada Kamis (8/7/2010). (*/alf)

Sumber: Pos Kupang 13 Juli 2010 halaman 5
Lanjut...

Senin, 11 Mei 2009

Saat-saat Terakhir Gereja Lama Kolhua

Misa terakhir di gereja lama St FA BTN Kolhua-Kupang berlangsung pada hari Minggu, 10 Mei 2009. Misa dipimpin Pastor Paroki St. Familia Sikumana, Rm. Kornelis Usboko, Pr. Mulai tanggal 11 Mei 2009 gereja lama dibongkar para pekerja dan tukang. Pembongkaran itu perlu dilakukan demi memudahkan pembangunan atap dan tembok gereja baru di lokasi yang sama. Sejak tanggal 5 Mei 2009, umat Stasi Kolhua kerja bakti membuat gereja sementara (darurat) di lantai satu. Gambar di bawah ini diabadikan Dion DB Putra pada hari Senin, 11 Mei 2009.


Selamat tinggal kenangan


Pembongkaran segera terjadi

Gedung Gereja Lama akan tinggal kenangan

Postur gedung gereja baru. Bakal megah??

Gereja darurat. Untuk sementara misa di sini

Gereja darurat

Istirahat sejenak sambil main catur


   Sisi selatan gereja Kolhua           
                                   


Para pekerja bersiap-siap 

Tak lama lagi akan dibongkar



Lanjut...